Gadis ke-16
Aku
duduk termangu di bangku depan kelas. Mengingat kejadian dua hari lalu saat dua
gadis dari kelas sebelahku berlarian dari arah kamar mandi yang letaknya di
sebelah kelas mereka. Mereka begitu ketakutan hingga tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan
dari orang-orang yang menanyai. Saat itu aku hanya melihat pemandangan itu dari
jauh dan tak berbuat apa-apa.
Aku
ingat saat pertama kali aku menapaki gedung sekolah ini, saat pendataran.
Bersama ayahku, aku mengajaknya berkeliling melihat-lihat. Tiba-tiba ayah
mendapat pesan dari rekan kerjanya untuk segera kembali ke kantor. Ayah
berpamitan dan harus meniggalkanku sendirian berkeliling. Kini aku sendiri. Tak
apalah.
Ketika
saat aku berada tepat di tempat yang kini sedang kududuki ini, terasa ada
sesuatu yang berbeda yang mendorong perasaanku untuk masuk ke ruang kelas.
Corat-caret mading yang berbentuk abstrak. Namun, ada satu nama yang tertulis
kecil yang nyaris tak terbaca. “Aruni”. Tanpa sadar aku terus memandangi nama
itu. Seolah aku tersihir dan terus memandaninya.
Tiba-tiba
dari arah belakang, suara seorang kakek menyapaku.
“Sedang
apa, kau ?”
Aku
benar-benar kaget. Aku menoleh ke belakang. Dengan gugup aku menjawab
pertanyaannya.
“E..ehm..aku
Arai, kek”
Kakek
itu mendekatiku dan mengajakku untuk segera pergi. Aku mengikutinya hingga
berada di pohon yang rimbun di belakang sekolah. Kakek itu memperkenalkan diri
bahwa dia adalah penjaga sekolah ini sejak 20 tahun lalu. Aku juga
memperkenalkan diriku. Baru beberapa menit kita bercerita, tapi rasanya kami
sudah sangat dekat.
Jam
tanganku menunjukkan pukul 11.30. Aku segera mengakhiri perbincangan ini. Satu
pesan dari kakek sebelum aku pulang bahwa aku akan mendapat seorang teman nanti
jika kamu melamuni seseorang. Aku tak begitu mengambil pusing dengan kata-kata
kakek itu. Karen wajar saja, ketika aku sekolah di sini pastinya akan mendapat
teman.
Aku
termangu begitu lama hingga seorang temanku mengagetkanku. Tapi aku hanya
tersenyum padanya.
Bel
puang sekolah berbunyi. Semua berhamburan keluar kelas meniggalkan aku dan
seorang temanku. Aku membuka buku catatanku dan menulis sesuatu catatan untuk
hari ini.
Aku
menoleh pada temanku. Chita. Dia sedang menulis sambil sesekali memegangi
dadanya seperti menahan sakit di dadanya. Aku ingin menyapanya tapi urung
kulakukan. Satu pesan ke ponselku dari seseorang. Ayah sudah menugngguku di
depan gerbang sekolah. Aku segera merapikan bukuku.
Sebelum
aku pergi, aku menyapanya dan mengajaknya pulang dari jauh. Dia hanya
mengangkat tangannya dan mengangguk. Aku segera pergi. Di depan kelas aku
bertemu kakek penjaga sekolah dan aku melempar senyum padanya. Tetapi dia
memelototiku. Aku memilih untuk segera pergi.
Aku
menemui ayahku yang sudah menugguku lama.
Malam
hari seusai mengerjakan tugas, jam dinding menunjukkan pukul 10. Aku pergi
tidur. Semua baik-baik saja. Memasuki pukul 12 malam, mimpi mulai muncul. Mimpi
tentang kejadian tadi siang.
Malam-malam
terus terlewati bersama mimpi yang sama. Chita yang lama-lama membuatku sadar bahwa
itu bukan Chita. Apa iya, dia bukan Chita ?
Aku
terus berpikir sepanjang hari. Hingga sutu hari, wali kelasku menyuruhku
mendata anak satu kelas karena berhubung aku adalah sekretaris.
Sebelum
data kuberikan, aku mengecek kembali. Ya, laki-laki 15 anak dan perempuan 15
anak juga. Mataku tertuju pada Chita. Dia tertawa begitu keras. Ingatanku
langsung teringat pada Chita beberapa hari lalu.
Aku
pergi ke ruangan wali kelasku dan menyerahkan data yang dimintainya.
Sekembalinya ke kelas, di tengah terik matahari yang begitu menyengat membuatku
pening. Di dalam kelaspun aku masih merasakan sakit. Lalu, ingatan Chita
beberapa hari lalu datang lagi. Benar-benar membuat kepalaku bertambah sakit.
Aku tak bisa menahan lagi. Kepalaku benar-benar sakit sekali. Tiba—tiba semua
gelap.
Kubuka
mataku dan semua tak ada di tempat, kecuali seorang perempuan yang duduk di
sebelahku dengan kepala menunduk. Chita. Chita ?
“Chita
?”
Dia
menengadah. Perlahan kuperhatikan wajahnya. Bukan Chita. Tetapi gadis yang
datang dalam mimpiku yang kukira adalah Chita.
Dia
memprkenalkan diri. Aruni namanya
Aruni ?
Nama di
dinding mading itu. Dia bercerita betapa cintanya pada dunia menulis. Maka, dia
menulis namanya. Untuk kenang-kenangan, katanya.
Hari-hari
berlalu, kami menjadi teman akrab. Semua yang melihat kami terheran. Mungkin
mereka iri. Sampai suatu hari Aruni mengajakku pergi ke belakang sekolah seusai
sekolah. Di bawah pohon yang dulu aku pernah berbagi cerita dengan kakek
penjaga sekolah. Kami bermain bersama.
Hingga
hari sudah mulai gelap, aku mengajak Aruni pulang. Tetapi dia mengajakku
menginap di tempatnya yang tak jauh dari sekolah. Aku tak menolaknya.
Rumah
Aruni kecil tapi berbeda dengan rumah orang biasanya. Banyak lukisan darah. Aku
bertemu kakek penjaga sekolah sedang tertidur di ranjang dengan badannya
ditutupi selendang. Wajahnya terlihat pucat. Aruni bilang, kakek sedang sakit
dan butuh banyak istirahat.
Malam
harinya, aku tidur bersama Aruni. Mimpi beberapa hari ini muncul lagi. Aku tak
mampu bangun lagi dari mimpiku. Mataku terpejam dan tak dapat terbuka lagi.
Hingga
di titik aku menyerah untuk membuka mataku, tiba-tiba mataku dapat terbuka
kembali. Tapi aku hanya melihat ayah dan Aruni yang tertunduk dengan memakai
seragam yang lusuh. Ayah mengajakku pulang. Tapi bagaimana dengan Aruni ? Dia
sendirian. Dia hanya tinggal bersama kakek penjaga sekolah yang sedang sakit
dan tak kunjung bangun.
Lalu,
kakak dan ibuku muncul di belakang ayah dan mengajakku pulang. Aku bingung.
Namun di tengah kebingungan, Aruni memegang tanganku dan memberiku sapu tangan
yang bertuliskan “16”. Lalu dia menangis dan lari entah kemana. Seperti menuju
jalan tak berujung.
Aku ?
aku dibawa pulang oleh keluargaku. Kami melewati danau berwarna merah dengan
menaiki perahu. Perjalanan memakan waktu yang lama hingga setengah hari. Lalu
kami sampai di depan rumah. Di sana Aruni muncul lagi. Memberiku kertas. “Besok
kita main lagi ya..”
Aku
terbangun. Mataku masih sakit untuk dibuka. Tapi tetap kupaksakan. Aku melihat
ayahku tersenyum ketika tahu aku telah membuka mataku. Lalu di luar ruangan
terlihat banyak orang. Ibu dan kakakku masuk ke dalam ruangan. Ibu memelukku
erat dan menangis.
Banjarnegara, 2 November 2015
Indah Dwi Ambarwati