Selasa, 15 Desember 2015

CERPEN GADIS KE-16



Gadis ke-16
                Aku duduk termangu di bangku depan kelas. Mengingat kejadian dua hari lalu saat dua gadis dari kelas sebelahku berlarian dari arah kamar mandi yang letaknya di sebelah kelas mereka. Mereka begitu ketakutan hingga tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang yang menanyai. Saat itu aku hanya melihat pemandangan itu dari jauh dan tak berbuat apa-apa.
                Aku ingat saat pertama kali aku menapaki gedung sekolah ini, saat pendataran. Bersama ayahku, aku mengajaknya berkeliling melihat-lihat. Tiba-tiba ayah mendapat pesan dari rekan kerjanya untuk segera kembali ke kantor. Ayah berpamitan dan harus meniggalkanku sendirian berkeliling. Kini aku sendiri. Tak apalah.
                Ketika saat aku berada tepat di tempat yang kini sedang kududuki ini, terasa ada sesuatu yang berbeda yang mendorong perasaanku untuk masuk ke ruang kelas. Corat-caret mading yang berbentuk abstrak. Namun, ada satu nama yang tertulis kecil yang nyaris tak terbaca. “Aruni”. Tanpa sadar aku terus memandangi nama itu. Seolah aku tersihir dan terus memandaninya.
                Tiba-tiba dari arah belakang, suara seorang kakek menyapaku.
                “Sedang apa, kau ?”
                Aku benar-benar kaget. Aku menoleh ke belakang. Dengan gugup aku menjawab pertanyaannya.
                “E..ehm..aku Arai, kek”
                Kakek itu mendekatiku dan mengajakku untuk segera pergi. Aku mengikutinya hingga berada di pohon yang rimbun di belakang sekolah. Kakek itu memperkenalkan diri bahwa dia adalah penjaga sekolah ini sejak 20 tahun lalu. Aku juga memperkenalkan diriku. Baru beberapa menit kita bercerita, tapi rasanya kami sudah sangat dekat.
                Jam tanganku menunjukkan pukul 11.30. Aku segera mengakhiri perbincangan ini. Satu pesan dari kakek sebelum aku pulang bahwa aku akan mendapat seorang teman nanti jika kamu melamuni seseorang. Aku tak begitu mengambil pusing dengan kata-kata kakek itu. Karen wajar saja, ketika aku sekolah di sini pastinya akan mendapat teman.
               
                Aku termangu begitu lama hingga seorang temanku mengagetkanku. Tapi aku hanya tersenyum padanya.
                Bel puang sekolah berbunyi. Semua berhamburan keluar kelas meniggalkan aku dan seorang temanku. Aku membuka buku catatanku dan menulis sesuatu catatan untuk hari ini.
                Aku menoleh pada temanku. Chita. Dia sedang menulis sambil sesekali memegangi dadanya seperti menahan sakit di dadanya. Aku ingin menyapanya tapi urung kulakukan. Satu pesan ke ponselku dari seseorang. Ayah sudah menugngguku di depan gerbang sekolah. Aku segera merapikan bukuku.
                Sebelum aku pergi, aku menyapanya dan mengajaknya pulang dari jauh. Dia hanya mengangkat tangannya dan mengangguk. Aku segera pergi. Di depan kelas aku bertemu kakek penjaga sekolah dan aku melempar senyum padanya. Tetapi dia memelototiku. Aku memilih untuk segera pergi.

                Aku menemui ayahku yang sudah menugguku lama.
               
                Malam hari seusai mengerjakan tugas, jam dinding menunjukkan pukul 10. Aku pergi tidur. Semua baik-baik saja. Memasuki pukul 12 malam, mimpi mulai muncul. Mimpi tentang kejadian tadi siang.
                Malam-malam terus terlewati bersama mimpi yang sama. Chita yang lama-lama membuatku sadar bahwa itu bukan Chita. Apa iya, dia bukan Chita ?
                Aku terus berpikir sepanjang hari. Hingga sutu hari, wali kelasku menyuruhku mendata anak satu kelas karena berhubung aku adalah sekretaris.
                Sebelum data kuberikan, aku mengecek kembali. Ya, laki-laki 15 anak dan perempuan 15 anak juga. Mataku tertuju pada Chita. Dia tertawa begitu keras. Ingatanku langsung teringat pada Chita beberapa hari lalu.

                Aku pergi ke ruangan wali kelasku dan menyerahkan data yang dimintainya. Sekembalinya ke kelas, di tengah terik matahari yang begitu menyengat membuatku pening. Di dalam kelaspun aku masih merasakan sakit. Lalu, ingatan Chita beberapa hari lalu datang lagi. Benar-benar membuat kepalaku bertambah sakit. Aku tak bisa menahan lagi. Kepalaku benar-benar sakit sekali. Tiba—tiba semua gelap.
                Kubuka mataku dan semua tak ada di tempat, kecuali seorang perempuan yang duduk di sebelahku dengan kepala menunduk. Chita. Chita ?
                “Chita ?”
                Dia menengadah. Perlahan kuperhatikan wajahnya. Bukan Chita. Tetapi gadis yang datang dalam mimpiku yang kukira adalah Chita.
                Dia memprkenalkan diri. Aruni namanya
                Aruni ?
                Nama di dinding mading itu. Dia bercerita betapa cintanya pada dunia menulis. Maka, dia menulis namanya. Untuk kenang-kenangan, katanya.
                Hari-hari berlalu, kami menjadi teman akrab. Semua yang melihat kami terheran. Mungkin mereka iri. Sampai suatu hari Aruni mengajakku pergi ke belakang sekolah seusai sekolah. Di bawah pohon yang dulu aku pernah berbagi cerita dengan kakek penjaga sekolah. Kami bermain bersama.
                Hingga hari sudah mulai gelap, aku mengajak Aruni pulang. Tetapi dia mengajakku menginap di tempatnya yang tak jauh dari sekolah. Aku tak menolaknya.
                Rumah Aruni kecil tapi berbeda dengan rumah orang biasanya. Banyak lukisan darah. Aku bertemu kakek penjaga sekolah sedang tertidur di ranjang dengan badannya ditutupi selendang. Wajahnya terlihat pucat. Aruni bilang, kakek sedang sakit dan butuh banyak istirahat.
                Malam harinya, aku tidur bersama Aruni. Mimpi beberapa hari ini muncul lagi. Aku tak mampu bangun lagi dari mimpiku. Mataku terpejam dan tak dapat terbuka lagi.
                Hingga di titik aku menyerah untuk membuka mataku, tiba-tiba mataku dapat terbuka kembali. Tapi aku hanya melihat ayah dan Aruni yang tertunduk dengan memakai seragam yang lusuh. Ayah mengajakku pulang. Tapi bagaimana dengan Aruni ? Dia sendirian. Dia hanya tinggal bersama kakek penjaga sekolah yang sedang sakit dan tak kunjung bangun.
                Lalu, kakak dan ibuku muncul di belakang ayah dan mengajakku pulang. Aku bingung. Namun di tengah kebingungan, Aruni memegang tanganku dan memberiku sapu tangan yang bertuliskan “16”. Lalu dia menangis dan lari entah kemana. Seperti menuju jalan tak berujung.
                Aku ? aku dibawa pulang oleh keluargaku. Kami melewati danau berwarna merah dengan menaiki perahu. Perjalanan memakan waktu yang lama hingga setengah hari. Lalu kami sampai di depan rumah. Di sana Aruni muncul lagi. Memberiku kertas. “Besok kita main lagi ya..”

                Aku terbangun. Mataku masih sakit untuk dibuka. Tapi tetap kupaksakan. Aku melihat ayahku tersenyum ketika tahu aku telah membuka mataku. Lalu di luar ruangan terlihat banyak orang. Ibu dan kakakku masuk ke dalam ruangan. Ibu memelukku erat dan menangis.

Banjarnegara, 2 November 2015

Indah Dwi Ambarwati
               

Selasa, 08 Desember 2015

Catatan

Mas Kremes

        Mendengar lagu ini aku mengingatmu. Mas Kremes. Mas-mas penjaga kasir di rumah makan Etnic yang kukagumi, yang saat itu melayaniku sebagai pembeli ayam kremes.

Aku sebatas mengagumi layaknya seorang idola. Tidak lebih. Saat itu Mas Kremes, sebutanku untuknya karena tak kuketahui namanya menjadi penyelamatku saat aku merasa down. Aku yang saat itu butuh seorang untuk mengisi hatiku yang benar-benar bimbang. Aku menyimpan perasaan pada teman satu kelas saat SMP. Perasaan itu berlangsung hingga dua tahun. Perasaan yang sungguh aneh dan panjang untuk diceritakan.

    Aku mengagumi teman sekelasku, tapi aku tak menyadari bahwa saat itu aku menyukainya. Hingga dua tahun kemudian setelah kami berpisah dan dia lenyap dalam ingatanku, kami bertemu kembali. Lalu, ada perasaan yang berbeda. Ada suatu mesin rekam dalam otakku yang memutar kembali ingatan masa lalu. Akhirnya waktu terus melangkah bersama pengakuanku akan perasaanku yang tertunda. Aku mengakui bahwa aku mencintainya. Dua tahun kembali aku menyimpan perasaanku. Dua tahun lagi.

        Aku saat itu merasa tak sanggup menahan perasaanku sendiri. Lebih tepatnya aku butuh kepastian dengan diamku. Aku tak mau terus berharap dalam diamku. Tak apalah bila cintaku akan berbalas. Tapi, jika tidak ? Itu sama artinya aku menyia-nyiakan waktuku untuk berharap pada sesuatu yang tak pasti karena ketidakberanianku. Aku semakin bimbang dengan perasaanku. Di satu sisi aku tak mampu menahan perasaanku, di sisi yang lain aku terbayang dampak-dampak bila nantinya aku benar-benar akan jujur pada perasaanku dan kukatakan padanya.

        Saat aku telah matang berpikir, aku akan memberinya surat. Aku tak memintanya untuk membalas cintaku, tapi cukup untuk membalas suratku. Aku akan terima apapun jawabannya, yang terpenting untukku adalah kelegaan telah mengatakan sesuatu yang benar terjadi. Aku berpikir, jika dia tidak membalas cintaku, tak apa. Toh yang penting aku lega telah jujur dan tak lagi terus berharap dalam ketidakpastian. Jika memang dia membalas cintaku, biarlah itu kuanggap sebagai bonus yang nantinya akan kupertimbangkan kembali.

        Dalam bimbangku, aku ternyata butuh waktu satu bulan lebih untuk memulai komunikasi dengannya. Itu tak selalu berjalan dengan apa yang kuharapkan. Di tengah ketidakpastian dengan kabarnya, Mas Kremes hadir sebagai penyemangat dan pengisi hatiku untuk sementara waktu. Saat aku kesal dengan pesanku yang tak dibalasnya, aku akan mengingat Mas Kremes sebagai penyemangatku. Maaf, mungkin aku terlalu jahat memposisikan Mas Kremes pada posisi yang tak enak. Tak apalah, selama tak merugikan yang bersangkutan.

        Hingga lagu “Locked Away” ini diputar berkali-kali, aku masih ingin bercerita tentang kisahku dan peran Mas Kremes dalam menytabilkan hatiku.

        Aku teruskan lagi ya ?

        Aku yang masih bimbang dengan langkahku, sahabatku yang mempertanyakan langkahku dan aku yang takut kecewa. Di samping semua perasaan itu, aku tetap mempertahankan Mas Kremes pada tugas awal. Bahkan aku kadang mengirim salam padanya lewat radio dengan sebutan “Mas Kremes”. Semua orang tak akan tahu bahkan yang bersangkutan sendiri, kecuali sahabatku.

        Nah, di saluran radio yang sering kudengarkan, untuk pertama kalinya aku mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Adam Levinn ini. Aku langsung jatuh cinta. Sering diputar di radio, membuat lagu ini sebagai lagu favoritku kala itu. Tapi lagu ini bukannya mengingatkanku pada dia yang selama ini membuat tidurku tak tenang, melainkan mengingatkanku pada Mas Kremes.


Hingga akhirnya aku menulis surat padanya pun, lagu ini tetap mengingatkanku pada Mas Kremes. Kini aku telah berada jauh dari Mas Kremes. Seorang yang bahkan tak tahu dirinya membuat orang lain lebih baik perasaannya ketika dirundung kegalauan. Akhirnya kini bukan hanya aku, sahabatku dan Allah saja yang tahu kisah ini. Tapi, akan ada banyak orang yang tahu bahwa kau pernah berjasa dalam hidupku walau kau hanya diam dan tak tahu apa-apa. Terima kasih, Mas Kremes.


Banjarnegara, 8 Desember 2015    12:21 am