Catatan
Mas Kremes
Mendengar lagu ini aku mengingatmu. Mas Kremes. Mas-mas penjaga kasir di rumah makan Etnic yang kukagumi, yang saat itu melayaniku sebagai pembeli ayam kremes.
Aku sebatas mengagumi layaknya seorang idola. Tidak lebih. Saat itu Mas Kremes, sebutanku untuknya karena tak kuketahui namanya menjadi penyelamatku saat aku merasa down. Aku yang saat itu butuh seorang untuk mengisi hatiku yang benar-benar bimbang. Aku menyimpan perasaan pada teman satu kelas saat SMP. Perasaan itu berlangsung hingga dua tahun. Perasaan yang sungguh aneh dan panjang untuk diceritakan.
Aku mengagumi teman sekelasku, tapi aku tak menyadari bahwa saat itu aku menyukainya. Hingga dua tahun kemudian setelah kami berpisah dan dia lenyap dalam ingatanku, kami bertemu kembali. Lalu, ada perasaan yang berbeda. Ada suatu mesin rekam dalam otakku yang memutar kembali ingatan masa lalu. Akhirnya waktu terus melangkah bersama pengakuanku akan perasaanku yang tertunda. Aku mengakui bahwa aku mencintainya. Dua tahun kembali aku menyimpan perasaanku. Dua tahun lagi.
Aku saat itu merasa tak sanggup menahan perasaanku sendiri. Lebih tepatnya aku butuh kepastian dengan diamku. Aku tak mau terus berharap dalam diamku. Tak apalah bila cintaku akan berbalas. Tapi, jika tidak ? Itu sama artinya aku menyia-nyiakan waktuku untuk berharap pada sesuatu yang tak pasti karena ketidakberanianku. Aku semakin bimbang dengan perasaanku. Di satu sisi aku tak mampu menahan perasaanku, di sisi yang lain aku terbayang dampak-dampak bila nantinya aku benar-benar akan jujur pada perasaanku dan kukatakan padanya.
Saat aku telah matang berpikir, aku akan memberinya surat. Aku tak memintanya untuk membalas cintaku, tapi cukup untuk membalas suratku. Aku akan terima apapun jawabannya, yang terpenting untukku adalah kelegaan telah mengatakan sesuatu yang benar terjadi. Aku berpikir, jika dia tidak membalas cintaku, tak apa. Toh yang penting aku lega telah jujur dan tak lagi terus berharap dalam ketidakpastian. Jika memang dia membalas cintaku, biarlah itu kuanggap sebagai bonus yang nantinya akan kupertimbangkan kembali.
Dalam bimbangku, aku ternyata butuh waktu satu bulan lebih untuk memulai komunikasi dengannya. Itu tak selalu berjalan dengan apa yang kuharapkan. Di tengah ketidakpastian dengan kabarnya, Mas Kremes hadir sebagai penyemangat dan pengisi hatiku untuk sementara waktu. Saat aku kesal dengan pesanku yang tak dibalasnya, aku akan mengingat Mas Kremes sebagai penyemangatku. Maaf, mungkin aku terlalu jahat memposisikan Mas Kremes pada posisi yang tak enak. Tak apalah, selama tak merugikan yang bersangkutan.
Hingga lagu “Locked Away” ini diputar berkali-kali, aku masih ingin bercerita tentang kisahku dan peran Mas Kremes dalam menytabilkan hatiku.
Aku teruskan lagi ya ?
Aku yang masih bimbang dengan langkahku, sahabatku yang mempertanyakan langkahku dan aku yang takut kecewa. Di samping semua perasaan itu, aku tetap mempertahankan Mas Kremes pada tugas awal. Bahkan aku kadang mengirim salam padanya lewat radio dengan sebutan “Mas Kremes”. Semua orang tak akan tahu bahkan yang bersangkutan sendiri, kecuali sahabatku.
Nah, di saluran radio yang sering kudengarkan, untuk pertama kalinya aku mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Adam Levinn ini. Aku langsung jatuh cinta. Sering diputar di radio, membuat lagu ini sebagai lagu favoritku kala itu. Tapi lagu ini bukannya mengingatkanku pada dia yang selama ini membuat tidurku tak tenang, melainkan mengingatkanku pada Mas Kremes.
Hingga akhirnya aku menulis surat padanya pun, lagu ini tetap mengingatkanku pada Mas Kremes. Kini aku telah berada jauh dari Mas Kremes. Seorang yang bahkan tak tahu dirinya membuat orang lain lebih baik perasaannya ketika dirundung kegalauan. Akhirnya kini bukan hanya aku, sahabatku dan Allah saja yang tahu kisah ini. Tapi, akan ada banyak orang yang tahu bahwa kau pernah berjasa dalam hidupku walau kau hanya diam dan tak tahu apa-apa. Terima kasih, Mas Kremes.
Banjarnegara, 8 Desember 2015 12:21 am
Tidak ada komentar:
Posting Komentar