LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA
ACARA
2. PENGENALAN PEMAKAIAN ALAT LABORATORIUM
DISUSUN
OLEH:
INDAH DWI AMBARWATI
NIM.
C1503012
PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
POLITEKNIK
BANJARNEGARA
2015
LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA
ACARA
2. PENGENALAN PEMAKAIAN ALAT LABORATORIUM
A.
Tujuan
1. Mahasiswa
mampu menggunakan peralatan dengan benar
2. Mahasiswa
mampu melakukan teknik titrasi
3. Mahasiswa
mampu melakukan pemisahan larutan dengan menggunakan berbagai alat.
B.
Dasar
Teori
Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen,
pengukuran
ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk
memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali.
Laboratorium ilmiah biasanya dibedakan menurut disiplin ilmunya, misalnya
laboratorium fisika,
laboratorium kimia,
laboratorium biokimia,
laboratorium komputer, dan laboratorium bahasa.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)Laboratoriumadalah tempat atau kamar
dan sebagainya tertentu yang dilengkapi dengan peralatan untuk mengadakan
percobaan (penyelidikan).
Menurut Oxford English DictionaryLaboratorium adalahruang atau
bangunan yang dilengkapi dengan peralatan untuk melakukan percobaan ilmiah,
penelitian, praktek pembelajaran, atau pembuatan obat-obatan dan bahan-bahan
kimia.
Menurut PERMENPAN
No. 3 Tahun 2010, Laboratorium adalah
unit penunjang akademik pada lembaga pendidikan, berupa ruangan tertutup atau
terbuka, bersifat permanen atau bergerak, dikelola secara sistematis untuk
kegiatan pengujian, kalibrasi, dan/atau produksi dalam skala terbatas, dengan
menggunakan peralatan dan bahan berdasarkan metode keilmuan tertentu, dalam
rangka pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat
(Wijayanto 2012).
Alat-alat
laboratorium yang digunakan dalam percobaan bermacam-macam diantaranya alat
pemanas yang terdiri dari pembakar gas, kaki tiga, segitiga perselin, kasa,
gegep, pemanas air, alat-alat perselin (cawan porselin dan pinggan porselin).
Selain itu juga digunakan alat-alat gelas. Sebelum digunakan alat-alat gelas
harus diperiksa dan kemudian dibersihkan. Alat-alat gelas diantaranya gelas
wadah, sedangkan untuk mereaksikan zat digunakan gelas ukur, labu ukur (labu
takar), pipet ukur (pipet gondok dan pipet mohr), dan buret. Sedangkan
alat-alat lain seperti, pengaduk gelas, erlenmeyer, corong, semprot, kertas
saring, timbangan dan lain-lain. Alat-alat gelas ini juga memiliki kegunaan dan
fungsi masing-masing yang berguna untuk memudahkan praktikan dalam melaksanakan
praktikum (Subroto, 2000 : 110).
C.
Alat
dan Bahan
Alat : beaker glass, pengaduk, kasa, kaki tiga,
bunsen, tabung reaksi, pipet tetes, penjepit tabung, corong glas, timbangan,
cawan, spatula, hot plate, orbital shaker, saringan, corong pisah, buret,
erlenmeyer, statif.
Bahan : air, kertas saring, bahan kimia, gula,
minyak, aquades, HCL
D.
Prosedur
Kerja
1. Memanaskan
zat dalam cawan porselin/erlenmeyer/gelas beker
2. Memanaskan
zat dalam tabung reaksi
3. Mereaksikan
dua larutan kimia
4. Menuang
larutan
5. Mencium
bau gas
6. Mereaksikan
larutan
7. Mengaduk
larutan
8. Menyaring
endapan
9. Penimbangan
10. Pengukuran
11. Penggunaan
buret
12. Memisahkan
larutan
Hasil
dan Pembahasan
Tabel Bahan Kimia
|
Simbol
|
Sifat
|
Contoh
|
Keterangan
|
|
|
Mudah terbakar
|
Minyak tanah, alkohol, kerosin
|
Sifat bahan ekstrem mudah menyala, artinya zat cair
yang mempunyai suhu kurang dari 0oC dan titik didih kurang atau
sama dengan 35oC. Sangat sudah menyala, artinya bahan yang dapat
terbakar pada keadaan normal. Cairan dengan suhu nyala di bawah 21oC
termasuk dalam golongan ini. Mudah terbakar, artinya bahan padat yang mudah
terbakar pada suhu kurang dari atau sama dengan 350oC dan zat cair
dengan suhu nyala sama atau lebih dari 21oC.
|
|
|
Korosit
|
Asam dan
Basa Kuat |
Korosif artinya bahan-bahan yang dapat merusak
jaringan hidup jika bersentuhan.
|
|
|
Beracun/
toksik |
Merkuri,
sianida |
Beracun artinya suatu zat yang dapat menimbulkan
kecelakaan, penderitaan, ataupun kematian apabila tertelan, terhirup, atau
terserap melalu kulit.
|
|
|
Iritasi/
berbahaya |
Kloroform
|
Iritasi artinya bahan-bahan yang umumnya tidak
korosif tetapi dapat mengakibatkan ketidaknyamanan apabila bersentuhan dengan
kulit atau bagian tubuh lainnya sehingga dapat menimbulkan hilangnya pigmen
atau melepuh.
|
|
|
Radioaktif
|
Uranium,
plutonium |
Bahan radioaktif artinya bahan-bahan yang dapat
memancarkan sinar-sinar radioaktif atau radiasi dapat mengakibatkan efek
racun dalam waktu singkat atau lama.
|
|
|
Mudah
meledak |
Campuran
hidrogen dan oksigen. |
Mudah meledak/eksplotif artinya bahan-bahan yang
mudah meledak apabila terkena gesekan, benturan, panas, atau kontak dengan
api.
|
|
|
Iritasi
|
Asam sulfat, asam nitrat, asam klorida
|
Bahaya akan timbul apabila kontak dengan kulit atau
mata, yang menyebabkan proses pelarutan atau denaturasi protein.
|
|
|
Berbahaya jika tertelan
|
AmoniaNH3
|
Menghirup uap asam pada jangka panjang mengakibatkan
iritasi pada hidung, Tenggorokan dan paru-paru.
|
Tabel Pengenalan pemakaian alat
laboratorium
|
No
|
Praktikum
|
Gambar
|
|
1.
|
Cara memanaskan zat dalam cawan
porselin/erlemeyer/gelas beker
1.
Ambilah kaki tiga dan letakkan kasa kawat
diatasnya
2.
Letakkan gelas kimia yang berisi larutan
diatas kasa dan panaskan dengan pemanas spirtus
|
|
|
2.
|
Cara memanaskan zat dalam tabung
reaksi
1.
Jepit tabung reaksi yang berisi larutan dengan
penjepit kayu atau besi
2.
Panaskan dengan nyala api spirtus, api pemanas
hendaknya terletak pada bagian atas larutan
3.
Goyangkan tabung reaksi agar pemanasan merata
4. Arahkan
mulut tabung reaksi pada tempat yang aman agar percikannya tidak melukai
orang lain maupun diri sendiri
|
|
|
3.
|
Mereaksikan dua larutan kimia
Jika akan mereaksikan asam pekat
dengan air, maka tuangkan asam pekat kedalam air sambil diaduk , jangan
sebaliknya air dituangkan kedalam asam pekat.
|
|
|
4.
|
Menuangkan larutan
Posisi pengaduk agak miring dan
larutan dilewatkan melalui batang pengaduk
|
|
|
5.
|
Mencium bau gas
1.
Jarak tabung reaksi dengan hidung ± 30cm
2.
Gunakan tangan untuk mendorong udara dari atas
mulut tabung reaksi menuju hidung
3. Jangan
mencium bau terlalu dekat dengan hidung, berbahaya.
|
|
|
6.
|
Mereaksikan larutan
Mereaksikan larutan dari pipet
tetes melalui dinding tabung reaksi jangan sampai tercelup dengan larutan
lain
|
|
|
7.
|
Mengaduk larutan
1.
Dengan pengaduk
Pengaduk
diputar, ujung pengaduk tidak sampai mengenai dasar tabung reaksi
2.
Tanpa pengaduk
Tabung reaksi digerakkan dengan
arah memutar dan posisi tangan memegang bagian atas tabung reaksi
|
|
|
8.
|
Cara menyaring endapan
1. Gunakan
kertas saring yang dilipat menjadi dua kemudian diipat lagi menjadi dua
2. Saringlah
sedikit demi sedikit kira-kira banyaknya arutan adalah sepertiga tinggi
kertas
|
|
|
9.
|
Penimbangan
1.
Gunakan spatula untuk mengambi zat yang akan
ditimbang. Pilih timbangan yang tepat sesuai kapasitasnya jangan menimbang
zat melebihi kapasitas maksimal timbangan yang digunakan
2.
Zat yang ditimbang tidak boleh
langsungdiletakkan diatas piring neraca, gunakan gelas kimia, botol timbang,
kaca arloji, kertas saring atau sesuai
3. Berat
zat = (berat bahan + wadah) – berat wadah kosong
|
|
|
10.
|
Pengukuran
Pengukuran volume larutan bisa menggunakan gelas ukur, kecuali
jika dinyatakan perintah “ukur dengan saksama”, dimaksudkan penggukuran
dilakukan dengan memakai pipet standart dan harus digunakan sedemikian rupa
sehingga kesalahanya tidak melebihi batas yang di tetapkan
Ketelitian penggukuran:
Pipet volum atau pipet gondok lebih teliti dari pada
pipet ukur, sedangkan pipet ukur lebih teliti dari pada gelas ukur.
Gunakan alat penggukur volum yang tersedia dengan sekala
yang dekat dengan penggukuran misalnya:
1. Jika
kita akan menggambil larutan sebanyak 4 ml dengan pipet ukur, maka hendakn ya
kita gunakan pipet ukur 5 ml bukan pipet ukur 10 ml
2. Jika
kita akan mengambil larutan sebanyak 4 ml dengan gelas ukur maka hendaknya kita gunakan gelas ukur 5 ml
bukan pipet ukur 100 ml
3.
Jika kita di minta menggambil larutan sebanyak
10 ml dan kita sediakan pipet volum pipet ukur dengan gelas ukur dengan batas
volum 10 ml, maka hendaknya kita memilih pipet volum agar volum larutan yang
kita ukur lebih teliti.
|
|
|
11.
|
Penggunaan buret
Periksa terlebih dahulu apakah buret dalam kondisi baik
(tidak pecah atau bocor), berikan sedikit saja vaselin pada keran agar
pengaturan penetesan mudah dilakukan
Bersihkan buret dengan air, bilaslah buret tersebut
dengan sedikit zat kimia yang akan di masukan kedalamnya
Masukan zat kimia yang akan di gunakan ke dalam buret
tersebut dengan menggunakan corong.
Lakukan penggisian sampai bagian buret terisi (perhatikan
bagian dalamnya) dan tidak terdapat gelembung gas pada buret.
Pasang buret pada statif dan klem agar posisinya statil.
Cara titrasi.
Zat yang akan dititrasi disebut sebagai titrat (ditampung
dalam erlemeyer), sedangkan larutan yang digunakan untuk menitrasi disebut
sebagai titran (dimasukan ke dalam buret), Posisi tangan pada saat titrasi.
Mata harus sejajar minikus, gunakan miniskus bawah untuk
menentukan volume titrasi. Jangan lupa perhatikan skala buret karena masing-masing kapasitas buret
memiliki skala yang berbeda.
|
|
|
12.
|
Cara memisahkan larutan
1.
Dengan menggunakan alat corong pisah
a.
Masukkan 40 ml minyak sayur beserta HCL 2 N (2
ml) kedalam corong pisah
b.
Kocok campuran tersebut agar homogen
c.
Tambahkan 2ml aquades, kocok campuran kemudian
diamkan sampai membentuk dua fasa
d.
Pisahkan kedua fasa melalui keran corong
pisah, tampung air pada penampung
2.
Dengan mengunakan alat centrifuge
3. Dengan
menggunakan alat saringan berbagai ukuran
|
|
|
13.
|
Cara mencampur larutan
1.
Dengan menggunakan alat orbital shaker
2. Dengan
menggunakan alat magnetik hotplate
|
|
Kesimpulan
Adapun
kesimpulan dari makalh ini antara lain adalah :
1. Penggunaan
alat sebelum melakukan percobaan/ penelitian harus difahami oleh semua
penggunanya, baik itu guru, laboran maupun siswa. Hal ini dapat dilakukan
dengan membaca dan memahami buku manual penggunaan alat sehingga ketika percobaan
dilakukan tidak terjadi kesalahan prosedur dalam penggunaan alat-alat
laboratorium.
2.
Pengklasifikasian peralatan di laboratorium fisika
sangat perlu dilakukan untuk memudahkan dalam menginventarisir alat dan
mengidentifikasi alat. Selain itu juga dapat memudahkan dalam pemanfaatan alat
sebagai alat percobaan maupun alat peraga.
3. Penggunaan
laboratorium sangat penting untuk diperhatikan bagi setiap siswa agar alat dan
bahan praktik bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Daftar Pustaka
Brady,
James E. 1994. Kimia Universitas Edisi
Kelima. Jilid Pertama. Penerbit Erlangga: Jakarta.
Day,
R.A. Jr and, A. L. Underwood. 1998. Analisis
Kimia Kualitatif. Edisi Kelima. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Subroto,
J. 2000. Buku Pintar Alat Laboratorium.
Aneka : Solo.
Syukri,
S. 1999. Kimia Dasar Jilid I. ITB :
Bandung.
http://chemistry6623.blogspot.co.id/2012_06_01_archive.html diakses tanggal
12 Oktober 2015
Kerennnn
BalasHapus