Jumat, 23 Oktober 2015

Laporan_Praktikum_Pengenalan_Alat_Laratorium_Indahdwiambarwatiagro




LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
ACARA 2. PENGENALAN PEMAKAIAN ALAT LABORATORIUM









DISUSUN OLEH:
INDAH DWI AMBARWATI
NIM. C1503012




PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
POLITEKNIK BANJARNEGARA
2015




LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
ACARA 2. PENGENALAN PEMAKAIAN ALAT LABORATORIUM

A.      Tujuan
1.      Mahasiswa mampu menggunakan peralatan dengan benar
2.      Mahasiswa mampu melakukan teknik titrasi
3.      Mahasiswa mampu melakukan pemisahan larutan dengan menggunakan berbagai alat.
B.       Dasar Teori
Laboratorium (disingkat lab) adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. Laboratorium ilmiah biasanya dibedakan menurut disiplin ilmunya, misalnya laboratorium fisika, laboratorium kimia, laboratorium biokimia, laboratorium komputer, dan laboratorium bahasa.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)Laboratoriumadalah tempat atau kamar dan sebagainya tertentu yang dilengkapi dengan peralatan untuk mengadakan percobaan (penyelidikan).
Menurut Oxford English DictionaryLaboratorium adalahruang atau bangunan yang dilengkapi dengan peralatan untuk melakukan percobaan ilmiah, penelitian, praktek pembelajaran, atau pembuatan obat-obatan dan bahan-bahan kimia.
Menurut PERMENPAN No. 3 Tahun 2010, Laboratorium adalah unit penunjang akademik pada lembaga pendidikan, berupa ruangan tertutup atau terbuka, bersifat permanen atau bergerak, dikelola secara sistematis untuk kegiatan pengujian, kalibrasi, dan/atau produksi dalam skala terbatas, dengan menggunakan peralatan dan bahan berdasarkan metode keilmuan tertentu, dalam rangka pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Wijayanto 2012).
Alat-alat laboratorium yang digunakan dalam percobaan bermacam-macam diantaranya alat pemanas yang terdiri dari pembakar gas, kaki tiga, segitiga perselin, kasa, gegep, pemanas air, alat-alat perselin (cawan porselin dan pinggan porselin). Selain itu juga digunakan alat-alat gelas. Sebelum digunakan alat-alat gelas harus diperiksa dan kemudian dibersihkan. Alat-alat gelas diantaranya gelas wadah, sedangkan untuk mereaksikan zat digunakan gelas ukur, labu ukur (labu takar), pipet ukur (pipet gondok dan pipet mohr), dan buret. Sedangkan alat-alat lain seperti, pengaduk gelas, erlenmeyer, corong, semprot, kertas saring, timbangan dan lain-lain. Alat-alat gelas ini juga memiliki kegunaan dan fungsi masing-masing yang berguna untuk memudahkan praktikan dalam melaksanakan praktikum (Subroto, 2000 : 110).
C.      Alat dan Bahan
Alat       : beaker glass, pengaduk, kasa, kaki tiga, bunsen, tabung reaksi, pipet tetes, penjepit tabung, corong glas, timbangan, cawan, spatula, hot plate, orbital shaker, saringan, corong pisah, buret, erlenmeyer, statif.
Bahan    : air, kertas saring, bahan kimia, gula, minyak, aquades, HCL
D.      Prosedur Kerja
1.      Memanaskan zat dalam cawan porselin/erlenmeyer/gelas beker
2.      Memanaskan zat dalam tabung reaksi
3.      Mereaksikan dua larutan kimia
4.      Menuang larutan
5.      Mencium bau gas
6.      Mereaksikan larutan
7.      Mengaduk larutan
8.      Menyaring endapan
9.      Penimbangan
10.  Pengukuran
11.  Penggunaan buret
12.  Memisahkan larutan





Hasil dan Pembahasan
Tabel Bahan Kimia
Simbol
Sifat
Contoh
Keterangan

Mudah terbakar
Minyak tanah, alkohol, kerosin
Sifat bahan ekstrem mudah menyala, artinya zat cair yang mempunyai suhu kurang dari 0oC dan titik didih kurang atau sama dengan 35oC. Sangat sudah menyala, artinya bahan yang dapat terbakar pada keadaan normal. Cairan dengan suhu nyala di bawah 21oC termasuk dalam golongan ini. Mudah terbakar, artinya bahan padat yang mudah terbakar pada suhu kurang dari atau sama dengan 350oC dan zat cair dengan suhu nyala sama atau lebih dari 21oC.


Korosit
Asam dan
Basa Kuat
Korosif artinya bahan-bahan yang dapat merusak jaringan hidup jika bersentuhan.


Beracun/
toksik
Merkuri,
sianida
Beracun artinya suatu zat yang dapat menimbulkan kecelakaan, penderitaan, ataupun kematian apabila tertelan, terhirup, atau terserap melalu kulit.


Iritasi/
berbahaya
Kloroform
Iritasi artinya bahan-bahan yang umumnya tidak korosif tetapi dapat mengakibatkan ketidaknyamanan apabila bersentuhan dengan kulit atau bagian tubuh lainnya sehingga dapat menimbulkan hilangnya pigmen atau melepuh.


Radioaktif
Uranium,
plutonium
Bahan radioaktif artinya bahan-bahan yang dapat memancarkan sinar-sinar radioaktif atau radiasi dapat mengakibatkan efek racun dalam waktu singkat atau lama.

Mudah
meledak
Campuran
hidrogen
dan oksigen.
Mudah meledak/eksplotif artinya bahan-bahan yang mudah meledak apabila terkena gesekan, benturan, panas, atau kontak dengan api.
Iritasi
Asam sulfat, asam nitrat, asam klorida
Bahaya akan timbul apabila kontak dengan kulit atau mata, yang menyebabkan proses pelarutan atau denaturasi protein.
Berbahaya jika tertelan
AmoniaNH3
Menghirup uap asam pada jangka panjang mengakibatkan iritasi pada hidung, Tenggorokan dan paru-paru.
Tabel Pengenalan pemakaian alat laboratorium
No
Praktikum
Gambar
1.
Cara memanaskan zat dalam cawan porselin/erlemeyer/gelas beker
1.      Ambilah kaki tiga dan letakkan kasa kawat diatasnya
2.      Letakkan gelas kimia yang berisi larutan diatas kasa dan panaskan dengan pemanas spirtus
2.
Cara memanaskan zat dalam tabung reaksi
1.      Jepit tabung reaksi yang berisi larutan dengan penjepit kayu atau besi
2.      Panaskan dengan nyala api spirtus, api pemanas hendaknya terletak pada bagian atas larutan
3.      Goyangkan tabung reaksi agar pemanasan merata
4.      Arahkan mulut tabung reaksi pada tempat yang aman agar percikannya tidak melukai orang lain maupun diri sendiri
3.
Mereaksikan dua larutan kimia
Jika akan mereaksikan asam pekat dengan air, maka tuangkan asam pekat kedalam air sambil diaduk , jangan sebaliknya air dituangkan kedalam asam pekat.
4.
Menuangkan larutan
Posisi pengaduk agak miring dan larutan dilewatkan melalui batang pengaduk
5.
Mencium bau gas
1.      Jarak tabung reaksi dengan hidung ± 30cm
2.      Gunakan tangan untuk mendorong udara dari atas mulut tabung reaksi menuju hidung
3.      Jangan mencium bau terlalu dekat dengan hidung, berbahaya.
6.
Mereaksikan larutan
Mereaksikan larutan dari pipet tetes melalui dinding tabung reaksi jangan sampai tercelup dengan larutan lain
7.
Mengaduk larutan
1.      Dengan pengaduk
Pengaduk diputar, ujung pengaduk tidak sampai mengenai dasar tabung reaksi
2.      Tanpa pengaduk
Tabung reaksi digerakkan dengan arah memutar dan posisi tangan memegang bagian atas tabung reaksi
8.
Cara menyaring endapan
1.      Gunakan kertas saring yang dilipat menjadi dua kemudian diipat lagi menjadi dua
2.      Saringlah sedikit demi sedikit kira-kira banyaknya arutan adalah sepertiga tinggi kertas
9.
Penimbangan
1.      Gunakan spatula untuk mengambi zat yang akan ditimbang. Pilih timbangan yang tepat sesuai kapasitasnya jangan menimbang zat melebihi kapasitas maksimal timbangan yang digunakan
2.      Zat yang ditimbang tidak boleh langsungdiletakkan diatas piring neraca, gunakan gelas kimia, botol timbang, kaca arloji, kertas saring atau sesuai
3.      Berat zat = (berat bahan + wadah) – berat wadah kosong
10.
Pengukuran
Pengukuran volume larutan bisa menggunakan gelas ukur, kecuali jika dinyatakan perintah “ukur dengan saksama”, dimaksudkan penggukuran dilakukan dengan memakai pipet standart dan harus digunakan sedemikian rupa sehingga kesalahanya tidak melebihi batas yang di tetapkan
Ketelitian penggukuran:
Pipet volum atau pipet gondok lebih teliti dari pada pipet ukur, sedangkan pipet ukur lebih teliti dari pada gelas ukur.
Gunakan alat penggukur volum yang tersedia dengan sekala yang dekat dengan penggukuran misalnya:
1.      Jika kita akan menggambil larutan sebanyak 4 ml dengan pipet ukur, maka hendakn ya kita gunakan pipet ukur 5 ml bukan pipet ukur 10 ml
2.      Jika kita akan mengambil larutan sebanyak 4 ml dengan gelas ukur  maka hendaknya kita gunakan gelas ukur 5 ml bukan pipet ukur 100 ml
3.      Jika kita di minta menggambil larutan sebanyak 10 ml dan kita sediakan pipet volum pipet ukur dengan gelas ukur dengan batas volum 10 ml, maka hendaknya kita memilih pipet volum agar volum larutan yang kita ukur lebih teliti.
11.
Penggunaan buret
Periksa terlebih dahulu apakah buret dalam kondisi baik (tidak pecah atau bocor), berikan sedikit saja vaselin pada keran agar pengaturan penetesan  mudah dilakukan
Bersihkan buret dengan air, bilaslah buret tersebut dengan sedikit zat kimia yang akan di masukan kedalamnya
Masukan zat kimia yang akan di gunakan ke dalam buret tersebut dengan menggunakan corong.
Lakukan penggisian sampai bagian buret terisi (perhatikan bagian dalamnya) dan tidak terdapat gelembung gas pada buret.
Pasang buret pada statif dan klem agar posisinya statil.
Cara titrasi.
Zat yang akan dititrasi disebut sebagai titrat (ditampung dalam erlemeyer), sedangkan larutan yang digunakan untuk menitrasi disebut sebagai titran (dimasukan ke dalam buret), Posisi tangan pada saat titrasi.
Mata harus sejajar minikus, gunakan miniskus bawah untuk menentukan volume titrasi. Jangan lupa perhatikan skala buret  karena masing-masing kapasitas buret memiliki skala yang berbeda.
12.
Cara memisahkan larutan
1.      Dengan menggunakan alat corong pisah
a.         Masukkan 40 ml minyak sayur beserta HCL 2 N (2 ml) kedalam corong pisah
b.        Kocok campuran tersebut agar homogen
c.         Tambahkan 2ml aquades, kocok campuran kemudian diamkan sampai membentuk dua fasa
d.        Pisahkan kedua fasa melalui keran corong pisah, tampung air pada penampung
2.      Dengan mengunakan alat centrifuge
3.      Dengan menggunakan alat saringan berbagai ukuran
13.
Cara mencampur larutan
1.      Dengan menggunakan alat orbital shaker
2.      Dengan menggunakan alat magnetik hotplate



Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalh ini antara lain adalah :
1.      Penggunaan alat sebelum melakukan percobaan/ penelitian harus difahami oleh semua penggunanya, baik itu guru, laboran maupun siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan membaca dan memahami buku manual penggunaan alat sehingga ketika percobaan dilakukan tidak terjadi kesalahan prosedur dalam penggunaan alat-alat laboratorium.
2.      Pengklasifikasian peralatan di laboratorium fisika sangat perlu dilakukan untuk memudahkan dalam menginventarisir alat dan mengidentifikasi alat. Selain itu juga dapat memudahkan dalam pemanfaatan alat sebagai alat percobaan maupun alat peraga.
3.      Penggunaan laboratorium sangat penting untuk diperhatikan bagi setiap siswa agar alat dan bahan praktik bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing.












Daftar Pustaka
Brady, James E. 1994. Kimia Universitas Edisi Kelima. Jilid Pertama. Penerbit Erlangga: Jakarta.
Day, R.A. Jr and, A. L. Underwood. 1998. Analisis Kimia Kualitatif. Edisi Kelima. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Subroto, J. 2000. Buku Pintar Alat Laboratorium. Aneka : Solo.
Syukri, S. 1999. Kimia Dasar Jilid I. ITB : Bandung.
http://chemistry6623.blogspot.co.id/2012_06_01_archive.html diakses tanggal 12 Oktober 2015

1 komentar: